Apa sih Déjà vu itu? Déjà vu adalah suatu fenomena, dimana kita merasakan kembali suatu peristiwa atau pengalaman yang sekarang dialami, sudah pernah terjadi di masa lalu. Déjà vu adalah suatu hal biasa yang terjadi pada orang yang terkena gangguan epilepsi, sakit, letih atau tertekan. Déjà vu sendiri dapat terjadi pada setiap orang tanpa aturan tertentu mapun waktu tertentu dan bisa terjadi dimana saja.
Apa sih Déjà vu itu?
Déjà vu adalah suatu fenomena, dimana kita merasakan kembali suatu peristiwa atau pengalaman yang sekarang dialami, sudah pernah terjadi di masa lalu.
Déjà vu adalah suatu hal biasa yang terjadi pada orang yang terkena gangguan epilepsi, sakit, letih atau tertekan. Déjà vu sendiri dapat terjadi pada setiap orang tanpa aturan tertentu mapun waktu tertentu dan bisa terjadi dimana saja.
Bagaimana pandangan islam, tentang Déjà vu?
Ketahuilah semoga Allah menjaga anda. disana tidak ada penafsiran islami terkait dengan fenomena semacam ini. Dan tidak pernah dibahas baik dalam Qur’an maupun Hadits. Ataupun salah satu dari kalangan para ulama Islam. Tidak ada apapun dengan pokok ataupun kaidah islam.
Dalam masalah ini tidak ada kecuali sekedar persepsi dan ungkapan dalam ilmu syaraf, pengalaman, dukun dan persangkaan semata menurut pemilik keyakinan agama bid’ah atau kesyirikan tidak Islami.
Tidak ada yang perlu anda lakukan kalau mendapatkan fenomena seperti ini melainkan mentadaburi keagungan nikmat Allah kepada anda dengan menjaga ingatan anda dari kerusakan dan keguncangan. Dan penjagaan-Nya terhadap akal anda dari penyakit dan kerusakan. Bagaimana para pakar (dikalangan mereka) berbeda menafsirkan fenomena semacam ini. Meskipun begitu mereka tidak sampai pada pendapat yang kuat terkait dengannya. Ini merupakan dalil akan kebodohan manusia akan banyak hal. Dan lemahnya menafsirkan banyak rahasia otak dan anggota tubuh lainnya.
Bagaimana pandangan Déjà vu secara ilmiah?
Menurut How Stuff Works, 70 persen populasi manusia pernah mengalami hal ini dan yang paling sering berada dalam rentang usia 15-25 tahun. Meski umum, deja vu sangat sulit dijelaskan dan dipelajari karena pengalaman tersebut sulit untuk ditiru di laboratorium.
Para peneliti hanya dapat memberikan teori mengenainya. Pada tahun 2006, para ilmuwan di Leeds Memory Group berpikir bahwa mereka berhasil menciptakan sensasi serupa di laboratorium. Mereka menggunakan hipnosis untuk memicu bagian dari proses pengenalan otak.
Penelitian ini berdasarkan pada teori bahwa dua proses kunci terjadi di otak saat kita mengenali sesuatu atau seseorang yang familiar. Awalnya otak akan mencari tahu ingatan kita untuk melihat apakah pernah merasakan sebuah kejadian, kemudian jika menemukan yang sesuai, sebuah area terpisah dari otak mengindentifikasinya sebagai sesuatu yang familiar.
Dalam deja vu, bagian kedua dari proses ini bisa dipicu secara tak sengaja. Untuk mengetahui hal ini, para peneliti merekrut 18 peserta untuk melihat 24 kata umum. Lalu, mereka dihipnosis untuk menganggap bahwa kata-kata yang berada dalam bingkai merah familiar, dan kata-kata dalam bingkai hijau tak ada dalam daftar asli.
Setelah keluar dari hipnosis, para peserta diberi rangkaian kata dalam bingkai warna berbeda, termasuk yang tak ada dalam daftar asli. Dari semua peserta, 10 orang berkata bahwa mereka merasakan sensasi aneh saat melihat kata baru dalam bingkai merah. Lima orang di antaranya bahkan menyebut perasaan itu seperti deja vu. Memori tak berfungsi Selain penjelasan di atas, para ilmuwan juga pernah menjelaskan bahwa deja vu adalah semacam gangguan sirkuit jangka panjang dan jangka pendek di otak. Artinya informasi baru dapat mengambil jalan pintas langsung ke ingatan jangka panjang. Dengan kata lain, ini melompati mekanisme yang biasanya digunakan otak untuk menyimpan informasi. Jadi, rasanya kita mengalami sesuatu di masa lalu.



Komentar
Posting Komentar